Daarul firdaus

Berbeda dengan Ramadhan sebelumnya yang Aku
lewati di Medan, kali ini Aku berniat menyelesaikan Ramadhan di Yogyakarta. Tentu
banyak perbedaan, dari segi waktu, berbuka di Yogyakarta lebih cepat, jam 5:30
wib sudah azan maghrib, meskipun waktu sahurnya juga lebih cepat. Setiap hari
kami melakukan sahur dan berbuka bersama santri dan jama’ah Masjid Alfirdaus.

Seusai ashar, para santri akan sibuk membantu
panitia Ramadhan, dari mulai menjaga parkir, membagikan makanan, MC dan
mengawasi murid TPA. Semua kami jalani dengan ceria, walaupun beberapa dari
kami sudah ada yang siap-siap mudik lebaran pada 20 Ramadhan nanti. Sebagian dari
kami,termasuk aku memilih lebaran di Yogyakarta. Alasannya berbeda-beda, ada
yang ingin menyelesaikan hafalannya dahulu ada juga alasan tiket pesawat yang
melonjak tinggi, kalau Aku yang kedua, hehe

Sembari menikmati rasa rindu dengan sanak
saudara, para santri harus tetap menjalani aktifitas seperti biasa. Dan setiap
Ramadhan para jamaah menjadi lebih ramai dari biasanya. Mereka tidak pulang
seba’da subuh sampai syuruk tiba. Sebagian membaca Alquran, sebagian lagi duduk
bersandar tertidur. Sebuah pemandangan yang harus disyukuri.

Daarul firdaus

Iya, bersyukur karena Allah masih izinkan
berada di tengah-tengah orang soleh, baik jamaah maupun santri, saat iman mulai
longgar ada saja pemandangan yang dilihat menambah semangat. Aku suka kagum
lihat teman teman santri, usianya masih sangat belia, 17 sampai 20 tahun,  mereka memilih untuk berada di tempat ini
saat yang lain mungkin sibuk memilih perguruan tinggi negeri mana yang mau
dimasuki. Jujur jika boleh menyesal, rasanya Aku ingin ditempat ini lebih awal,
tidak kuliah dulu sampai selesai. Kerena belajar di usia seperti ini banyak
ujian. Dari mulai pertanyaan kerja apa? Kapan nikah? Kapan mau melamar dan
banyak lagi pertanyaan lagi yang sebenarnya bercanda tapi sering jadi bahan
pikiran

Daarul firdaus

Suatu hari ada seorang santri, usianya 27
tahun, dia mengalami kendala saat menghafal, dia selalu dibayangi pikiran
menikah, ini terjadi saat hari ahad, membuka hp dan melihat status teman teman
menyebar undangan. Setiap santri disini beragam cobaannya, mereka di usia 18-19
cobaanya adalah rasa ingin kuliah.

Tidak hanya santri, kehidupan para jamaah
disini juga aneka ragam, ada yang dulu pengusaha sukses di amerika, kemudian
hijrah meninggalkan riba, sekarang menjalani aktivitas sebagai pedagang. Ada juga
mantan pemilik perusahaan ekspor dan lainnya. Indah sekali, saat melihat mereka
memilih kerja jadi pengusaha supaya bisa sholat lima waktu di masjid. Mereka lebih
hebat dari santri yang memang sudah seharusnya sholat di masjid, karena
tinggalnya juga disana. Tapi mereka harus berjalan kaki atau naik motor,
uniknya Masjid Alfirdaus tak pernah sepi dari anak-anak, mereka dibawa oleh
para Ayah dan kakek, senang lihat anak anak itu kemudian tertidur dipangkuan
Ayah yang sedang khusyuk membaca Alquran.

Benarlah, memang Masjid sebaik-baiknya tempat
yang harus didatangi sesering mungkin, menenangkan dan menyejukkan. Dulu semasa
kuliah, Aku selalu iri melihat mahasiswa-mahasiswa yang ketika waktu istirahat
berlama-lama di masjid, membaca Alquran dan berdoa. Sambil membatin dalam hati.
“ Ya Allah izinkan Aku seperti mereka”. Mendengarkan kisah hijrah jamaah masjid
dan para santri membuat Aku banyak bersyukur, setidaknya sampai saat ini Allah
izinkan aku diantara mereka yang santun ucapannya penuh hikmah, sabar dan
ikhlash sikapnya.

Ramadhan di Yogyakarta begitu cepat berlalu
rasanya, hilir mudik para santri menempati ruang utama masjid. Satu sama lain
bersahutan bacaan Alqurannya. Hingga satu saat aku pernah berfikir, bagaimana
suatu hari nanti aku harus berpindah tempat dan tak ku dengar suara lantunan
ayat ayat Alquran itu lagi, dan berganti dengan gemuruh orang-orang yang sibuk
membicarakan kemungkaran, apakah aku juga akan ikut mungkar atau bisa
menghindar. Bukankah hidayah itu milik Allah, hari ini kita beriman dan taat,
belum tentu esok, jika hidayah dicabut, tersisalah hidup yang semraut.

Daarul firdaus

Dimana pun kita menjalankan Ramadhan kali ini,
Aku titip salam semangat teman-teman seperjuangan, teman berorganisasi, teman
kuliah dan teman sehati sejiwa. Semoga Allah menetapkan hati kita ketaatan.
Semoga Allah pilih kita menjadi hambanya yang bertaqwa dan bersyukur. Dan semoga
Allah anugrahkan Alquran dalam hati, ingatan dan perilaku kita. Allahumma
Aaamiin

Sumber : www.gigihsuroso.com